Wayang Style Jogja Yang Kurang Populer

Koboys Wayang Final

Ini adalah foto dari kaos koboys bertema wayang. Walapun berakar dari hobby otomotif, namun tidak ada salahnya kita kembali mengingat budaya yang sudah mulai hilang. Itulah dasar tema yang saya pilih untuk membuat desain kaos koboys. Foto di atas adalah kaos yang sudah jadi. Sedangkan desain usulannya tidak seperti itu, namun seperti ini:Koboys Wayang Awal

Temanya sama, wayang Werkudara/Bima dan tulisan berbau huruf Jawa. Yang membedakan adalah wayanganya. Wayang di desain awal adalah wayang ber-gagrak (genre/style) Jogja, sedangkan yang sudah jadi kaos adalah Bima gagrak Surakarta. Kenapa saya pilih wayang Jogjaan, itu karena Koboys berawal dari Kota Jogja, hitung-hitung menghormati tempat asalnya, maka saya pilihlah Wayang style Jogja.

Kenapa setelah dicetak, wayangnya berubah. Kalo tidak salah, kaos ini dibuat di Klaten, wayang Klaten umunya ikut gagarak Surakarta, jadilah seperti itu.

Tidak masalah, antara desain usualn dengan yang fix. Saya cuma menyoroti tentang Wayang Gagrak Jogja yang kurang populer. Sekarang terbatas di wilayah Jogja saya, wilayah lain wayangnya ikut gagarak Solo. Mungkin karena dalang kondnag yang me-nasional kebanyakan dari Gagrak Solo, taruhanya sang Maestro Dalang Nrtosabdo, Anom Suroto dan Manteb Sudarsono.

Kalo menurut saya, memang secara proporsional wayang Solo lebuh seimbang, lebih gagah dan lebih stylish. Sedangkan wayang Jogjaan terkesan (maaf) gendut, tangan kepanjangan dan terkesan mirip wayang model lama.

Iklan

3 pemikiran pada “Wayang Style Jogja Yang Kurang Populer

  1. Iya juga,
    jarang wayang gaya jogja yang digunakan untuk adegan sabetan(perangan) oleh dalang,
    karena wayangnya terlalu kegemukan.
    parahnya lagi dalang-dalang wayang kulit gaya jogja sekarang sudah banyak yang menggunakan wayang surakarta ketimbang wayang jogja itu sendiri.
    memang secara musik gamelan gagrag jogja, tapi waktu lihat wayangnya ternyata gaya solo(surakarta)

    Suka

  2. Bagi orang Jogja yang mengerti wayang, wayang Jogja memang berbeda tetapi memiliki makna filosofis yang tidak semua orang bisa memahaminya. Wayang Jogja memang bukan wayang sabet tetapi wayang pajang – perbedaannya Jogja lebih menonjol dalam tatahan, Solo lebih menonjol dalam sunggingnya. Keduanya memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Wayang Solo lebih dikenal di luar karena lebih mau membuka diri dan umurnya lebih tua. Wayang Jogja cenderung censervative dan umurnya lebih muda (baru muncul sejak Mataram Jogja terpisah dengan Solo (perjanjian Giyanti).

    Suka

    • He he iya mas lha masalahnya sekarang tidak ada regenerasi yang bagus dari dalang gaya jogja itu sendiri, yang bisa mempopulerkan wayang jogja itu sendiri.

      mereka seperti kehilangan idealisme. Asal ikut – ikutan dalang yang sudah tenar, pasti semua mengiblat ke sana semua. Yang penting laku dan payu(laris). Apa yang lagi ngetrend mereka ikuti. Kalo wayang gaya surakarta lagi ngetrend di mana – mana, otomatis dalang2 gaya jogja juga ikutan memakai wayang surakarta itu sendiri. Intinya dalang2 gaya jogja saat ini kehilangan sosok penerus dari dalang gaya jogja yang telah populer sebelumnya, seperti contoh Ki Hadi Sugito dan Ki Timbul Hadiprayitno. Sampai saat ini saya rasa tidak ada dalang jogja yang minimal memiliki idealisme dalang wayang kulit gaya jogja seperti beliau2 tersebut.

      Suka

Terima Kasih Atas Komentarnya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s