Wayang Jogja Yang Endemik

Kopdar dengan Ki Faizal Noor Singgih

Wayang Jogja itu endemik, hanya ada di wilayah Jogja itupun tidak terlalu berkembang. Wayang gagrag lain (dalam hal ini Solo) bisa masuk ke wilayah Jogja namun wayang Jogja sulit masuk ke wilayah lain. Dalam hal ini terutama adalah wujud wayangnya. Jika gaya pedalangan Jogja yang renyah dan ceria tetap bisa masuk ke wilayah lain.

SABET

Mengutip perkataan para penggiat wayang Yogyakartan, kenapa paraga wayang jogja kurang berkembang, bahkan dalang jogjapun banyak yang menggunakan wayang Solo yang utama adalah WAYANG JOGJA SUSAT UNTUK SABET. Melihat wujud wayang asli Jogja, ada dua hal yang terlihat yaitu : POSTUR LEBIH GEMUK dan TANGAN LEBIH PANJANG.

Karna Jogja vs SoloSementara sabet yang berkembang di seni pedalangan secara nasional bisa dikatakan mengikuti gaya Ki Manteb Sudarsono. Untuk melakukan hal seperti itu, wayang gaya Jogja memang akan kesulitan.

Namun Ki Faizal Noor Singgih menjelaskan, sabet gaya Jogja yang asli itu berbeda dengan sabet era sekarang. Sabet jogja itu sederhana, tidak cepat namun artistik, Jika sabet Solo itu seperti orang berkelahi, sabet Jogja seperti orang menari, seperti di Wayang Wong. Beliau memperagakan salah satu adegan sabet Jogja dimana ada adegan tangan kedua wayang yang berperang berpegangan. Pergerakan wayang meninggalkan kelir juga tidak secepat kilat namun seperti ada alurnya.

BANYAK MACAMNYA

Wayang jogja bisa dikatakan tidak mengena wayang Srambahan. Wayang srambahan adalah tokoh wayang yang bisa jadi tokoh A di lakon 1, tokoh B di lakon yang lain. Hampir semua nama paraga ada wujud wayangnya. Jadi secara total wayang jogja itu jumlahnya sangat banyak.

Selain itu menurut info, jaman dahulu itu setiap pangeran punya wayang sendiri-sendiri. Jadi di dalam Gagrag Jogja sendiri ada bermacam-macam sub gagrag. Yang bisa saja, satu tokoh yang sama wayangnya berbeda.

Ini menimbulkan kesulitan sendiri, gaya mana yang mau dipakai atau wayang mana yang diangggap standar Jogja.

Jika wayang Solo ada srambahan dan sepertinya standarnya lebih jelas.

WILAYAH

Masih menurut Ki Faizal, Wilayah Joga itu dahulu adalah DIY sekarang ditambah Jawa Timur. Sementara wilayah Solo justru Jawa Tengah. Jadi Wayang Solo berkembang dengan solid dan berkesinambungan, sementara wayang Jogja terhalang daerah Solo.

Masalah politik jelas kental di sini. Dimana wilayah Solo pasti ada larangan melakonkan wayang Jogja dan sebaliknya. Namun karena wilayah yang terpisah, kontrol Jogja pasti lebih susah sehingga penetrasi Gagrag Solo pasti lebih besar ke wilayah Jogja.

Makanya itu Wayang asli Jawa Timuran lebih dekat ke Gagrag Jogja, walau mungkin sekarang wayang Jawa Timuran juga tidak terlalu eksis.

KERATON

Ada lagi hal lain yang berhubungan dengan keraton. Menurut beberapa sumber, wayang keratonJogja dahulu aslinya memang diambil dari luar keraton. Namun setelahnya wayang joga seolah menjadi eksklusif.
Beda dengan wayang Solo yang sepertinya dibebaskan menjadi kesenian rakyat, makanya berkembang dari wilayah sekitar keraton sampai wilayah yang jauh dari keraton seperti Banyumas dengan gaya yang menyesuaikan.

DOKUMENTASI

Ini juga masalah penting. Dokumentasi berupa buku wayang yang beredar sejak buku bertuliskan aksara jawa, ejaan belanda sampai era modern adalah wayang Solo. Wayang jogja bisa dikatakan tidak ada, adapun hanya bisa kita lihat di Majalah atau Koran semacam Kedaulatan rakyat.

Mungkin baru sekarang penggiat wayang Jogja bergerak, dan semoga wayang Jogja tetap bisa meramaikan khazanah perwayangan Indonesia.

Iklan

3 pemikiran pada “Wayang Jogja Yang Endemik

  1. Tapi kenapa ya mas dalang2 jogja kurang populer jika dibandingkan dengan dalang2 surakarta,
    Kalo ada tanggapan wayang di luar provinsi yg lain seperti jawa timur, jawa barat dan jakarta selalu dalang2 gaya surakarta yg menang.
    Dalang2 sekaliber seperti ki manteb sudharsono, ki anom suroto, ki purbo asmoro dan ki enthus susmono(gaya pedhalangan mulai terpengaruh gaya surakarta) bisa jauh lebih terkenal daripada dalang2 gaya jogja.
    Lihat saja kalau ada instansi pemerintah lagi nanggap wayang, pasti kebanyakan dalang2 gaya surakarta lebih menang dari gaya jogja.
    Apakah itu semua ada hubungannya dengan pakem pewayangannya(sanggit, pola pedalangan).
    Atau mungkin juga dari wayang gaya jogja itu sendiri yg sekiranya sulit berkembang dan diterima oleh masyarakat luar jogja itu sendiri?
    Yang katanya wayang jogja itu agak gemuk lah, kurang langsing lah, dll.

    Suka

    • dimulai dari itu
      dan masalah dalang terkenal dahulu Ki timbul dan Ki Hadi Sugito cukup diperhitungkan, namun belum ada penerus yang seterkenal beliau.
      dan memang gagrak Nasional bisa disebut Gagrak Surakarta (ingat..bisa disebut)

      Suka

Terima Kasih Atas Komentarnya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s